Laporan bacaan Mengenai " Kultur Sekolah "
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini disini saya Chi-chi Fitriani selaku penulis akan memaparkan sedikit mengenai penjelasan terhadap bahan bacaan
yang telah saya baca yaitu mengenai Kultur sekolah.
Adapun Hasil bacaan saya ini saya bagikan karena untuk memenuhi tugas dari ibu dosen Farninda Adytia, M.Pd selaku mata kuliah Magang 1.
bahwasanya Adapun untuk dalam Mengenai sebuah pengertian kultur sekolah ini bahwasanya ada seorang Tokoh yang mendefinisikan mengenai apa itu sebuah kultur sekolah ia bernama Phillips (1993: 1) yang mendefinisikan kultur sekolah ini sebagai suatu kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan karakteristik suatu sekolah. Selain itu juga ada Richardson (Masden & Wagner, 2005: 1) yang mendefinisikan kultur sekolah sebagai akumulasi nilai-nilai dan norma-norma sekelompok orang; pandangan kelompok ke depan, bukan individu; dan cara setiap orang dalam memandang dan memecahkan persoalan. Disini pada dasarnya kultur sekolah ini sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah.
dalam sebuah kultur sekolah ini sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah.
Selain itu juga, disini adapun upaya untuk mengembangkan kultur sekolah ini misalnya dimana dengan cara adanya proses pembelajaran yang bermakna, disiplin pada asas dan peraturan yang dilakukan oleh semua warga sekolah, kompetensi guru dalam mengajar dan terutama tampilnya kepala sekolah sebagai manajer yang handal yang dapat mengelola berbagai konflik dengan baik.
Adanya sebuah kehidupan dimana saling kerjasama di sekolah antara lain dengan misalnya itu melibatkan persatuan orang tua siswa dalam kegiatan sekolah, mementingkan kerjasama dalam melaksanakan kegiatan, bekerjasama dengan semua pihak dalam membangun prasarana sekolah, kerjasama mengelola sarana sekolah, mengadakan diskusi kelompok tentang pelaksanaan kegiatan rutin yang akan berlangsung di sekolah, memberi metode dan teknik mengajar di kelas. dalam proses pengembangan kultur sekolah sendiri disini dapat dilakukan melalui tiga tahapan yaitu contoh seperti dengan melakukan pengembangan pada tataran spirit dan juga nilai-nilai, selain itu juga bisa dengan pengembangan pada tataran teknis,dan pengembangan pada tataran sosial. dengan adanya Pembiasaan dalam melaksanakan kultur sekolah dengan guru dan kepala sekolah sebagai figur teladan dalam pembinaan kultur sekolah, sehingga seluruh komponen sekolah ikut melaksanakan kultur sekolah dengan baik dan meningkatkan kinerja atau kualitas sekolah lebih optimal. Melalui pengembangan Kultur sekolah ini akan membentuk tatanan perilaku yang lebih baik pada siswa dan guru melalui pembiasaan yang dilakukan dilingkungan sekolah. selain itu, dengan adanya Kultur sekolah ini bisa berfungsi untuk meningkatkan atensi, komitmen, motivasi warga sekolah, pada nilai-nilai prioritas sekolah.
kultur sekolah yang positif hanya dapat dibangun oleh pemimpin yang memiliki nilai amanah dan tanggung jawab. Bagi
pemimpin yang amanah dan tanggung
jawab fungsi pengawasan berada dalam
hatinya, bukan pada atasan atau apa
saja yang berperan sebagai pengawas.
Hati adalah pengawas bagi orang-orang
yang amanah, karena hati tidak pernah
berdusta. Dan di atas segalanya,
pengawas utama manusia adalah Allah
swt. sebagai Maha Mengetahui Segala
sesuatu. Orang-orang yang amanah
merasa hidupnya senantiasa dalam
pengawasan Allah swt, Tuhan alam
semesta. Oleh karena itu pemimpin
selalu bekerja secara oftimal dan
berkarya maksimal melalui kerja keras,
kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja
ikhlas. Hal itu hanya akan terwujud
oleh kepemimpinan yang mengedepankan moral. Kepemimpinan moral (moral leadersip) adalah kepemimpinan yang digambarkan dengan satunya keyakinan, ucapan, sikap, dan tindakan sang pemimpin. Ada konsistensi antara kebenaran yang diyakini dengan ucapan, sikap, dan perbuatan sang pemimpin. Kepemimpinan moral inilah yang mampu menjadikan keyakinan, ucapan, sikap, dan perilaku pemimpin patut diteladani, kepribadian sang pemimpin menjadi tampak kokoh, disegani, dikagumi, dan kharismatik. Kepemimpinan moral ini sangat efektif untuk pendidikan karakter.
bahwa dengan adanya kegiatan rutin sekolah ini maka kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat, kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga, keteladanan adalah perilaku dan sikap kepala sekolah, guru dan tenaga pendidikan lainnya dalam memberikan contoh yang baik pada peserta didik, untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung itu.
apabila dalam Membangun dan melakukan suatu perubahan kultur sekolah Perlu adanya kesungguhan dan komitmen yang kuat yang dilaksanakan secara konsisten dengan program-program aksi yang konkrit dengan strategi pengkondisian, pembiasaan, dan keteladanan, baik melalui pendekatan struktural maupun kultural. Pendekatan struktural dengan membuat kesepakatan berupa regulasi peraturan, tata tertib, dsb. yang mengikat siswa, guru, dan seluruh warga sekolah lainnya, adanya program-program pembiasaan yang lambat laun akan menjadi budaya/karakter, sedangkan pendekatan kultural melalui interaksi dengan menanamkan nilai-nilai, sikap dan perilaku yang diintegrasikan pada setiap mata pelajaran dan atau melalui kegiatan ekstra kurikuler,dan yang terpenting dengan cara pembudayaan dengan keteladanan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah.
kultur sekolah ini dimana diperlukan harus mempunyai fungsi keteladanan dan aktivitas yang secara sengaja diciptakan dalam bentuk pembiasaan dan penguatan secara continue (terus-menerus) dalam kultur sekolah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui proses penugasan, pembiasaan, pelatihan, pengajaran, penghargaan, dan keteladanan. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu di sekolah difokuskan pada pengembangan nilai-nilai karakter dalam kultur sekolah. selain itu juga, bahwasanya kultur sekolah ini juga terjadi antar sesama murid. Oleh karena itu, murid dapat diberikan kesempatan untuk berperan aktif untuk mensosialisasikan serta memberikan contoh kepada murid yang lain untuk membiasakan diri mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah dan murid juga layak dilibatkan dalam setiap
pengambilan kebijakan sekolah dalam pendidikan karakter.
dalam sebuah kultur sekolah yang positif maka akan membuat budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya. Aktivitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang
bahkan berpikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki perilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa. Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar.
Kultur sekolah yang positif akan mengembangkan atau merubah
perilaku seluruh warga sekolah, ke arah perilaku yang efisien dan efektif
untuk mewujudkan prestasi. proses belajar mengajar yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa ialah suatu contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa.
dalam sebuah kultur sekolah ini mempunyai elemen- elemen yang mana terdiri bagian dapat diamati dan bagian yang tidak dapat diamati. Bagian yang bisa diamati antara lain desain arsitektur gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, ritual, simbol-simbol,slogan, gambar-gambar yang dipasang, sopan santun, dan sebagainya. Sementara bagian kedua berada di balik bagian pertama dan relatif tidak dapat diamati, tidak kelihatan, dan tidak dapat dimaknai dengan segera. ini berintikan norma perilaku bersama warga organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat (termasuk sekolah). Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut sebagai artefak. yang merupakan nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar (Kotter 1996: 167-178). semuanya tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan bersama. Kultur pada elemen kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil kemungkinannya untuk diubah. Kalau pun berubah, prosesnya memerlukan waktu yang lama. Suatu kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah. sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.
bahwasanya mengenai Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 14) dipaparkan bahwa aspek-aspek budaya utama (core value) yang direkomendasikan untuk dikembangkan di sekolah misalnya seperti ; semangat membaca dan mencari referensi, nilai-nilai keterbukaan/kejujuran,nilai-nilai kebersihan, nilai-nilai disiplin dan efisiensi, nilai-nilai kebersamaan/kerja sama, nilai-nilai saling percaya, budaya berprestasi dan berkompetisi, budaya memberi teguran dan penghargaan. membangun kultur sekolah yang baik akan menghasilkan prestasi tidak hanya akademik saja tetapi juga menghasilkan kultur sekolah dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Kultur sekolah ini sangat mempunyai peranan penting dalam memperbaiki kinerja siswa mana kala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif dan profesional. Artinya kultur sekolah seyogyanya menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah, bahkan didukung oleh stakeholder-nya. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan. mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif.
Sumber bahan bacaan:
https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/download/839/613